You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 32

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 32

E-mail Print PDF

قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

[Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”]

[They said: Glory be to Thee! we have no knowledge but that which Thou hast taught us; surely Thou art the Knowing, the Wise.]

1). Setelah Allah mengajari Adam seluruh nama-nama, Dia kemudian berpaling ke para malaikat seraya menyuruhnya menyampaikan nama-nama tersebut. Jawaban malaikat—yang menurut kita memiliki ilmu yang luar biasa—ternyata di luar dugaan: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’. Pertama, malaikat mensucikan Allah, yang artinya melepaskan Allah dari hal-hal yang mustahil bagi-Nya, misalnya, bercacat (atau punya keterbatasan) dalam ilmu-Nya.

2). Kedua, malaikat memberikan pengakuan terbuka bahwasanya ilmu mereka terbatas pada apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadanya. Apa maksudnya? Bukankah telah kita terangkan sebelumnya bahwa memang tidak ada (sumber) ilmu selain Dia? Sehingga tidak ada ilmu yang ada pada siapapun dan apapun selain yang berasal dari-Nya? Yang terpahami oleh kita di situ ialah bahwa “kapasitas” kemampuan yang Allah berikan kepada para malaikat di bawah dari “kapasitas” yang Allah berikan kepada seorang khalĭfah, secara khusus, dan manusia, secara umum. Itulah sebabnya nanti kenapa Allah memerintahkan mereka bersujud kepada khalĭfah (2:34) dan kepada manusia (15:29 dan 38:72). Inilah juga sebabnya kenapa Allah menyebut “manusia itu sungguh amat zalim dan amat bodoh,” (33:72) karena “kapasitas”-nya melampaui malaikat tetapi usaha dan pilihannya cuma secetek binatang ternak (7:179); “kapasitas”-nya dipersiapkan untuk memikul amanah, tetapi memilih hanya memikul durjana (dengan memperturutkan hawa nafsunya).

3). Ketiga,  malaikat memberikan pengakuan sekaligus penyingkapan bahwa yang namanya ilmu, pada dirinya selalu berkumpul sifat-sifat kebijaksanaan (yakni, menghukumi sesuatu secara benar): sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sehingga manakala ada seseorang yang mengaku atau diaku sebagai ber-ilmu namun sikapnya tidak mencerminkan kearifan dan kebijkasanaan, maka pasti dalam diri orang tersebut terdapat dualitas dikotomistis: pengetahuan dan hawa nafsu. Dan pengetahuannya belum sampai pada status: ilmu.

4). Melalui jawabannya ini, malaikat memberikan pengakuan bahwa selain “kapasitas”-nya yang memang ‘terbatas’, juga jenis ilmu yang mereka miliki hanya satu macam: (yaitu) ilmu hudluri atau (di Indonesia lebih dikenal dengan istilah) ilmu laduni; dan tidak punya kapasitas sama sekali untuk memiliki ilmu hushuli. Terbukti dengan kekeliruannya menangkap makna khalĭfah di ayat 30, karena itu memang di luar dari apa yang telah Allah ajarkan (secara hudluri atau laduni) kepadanya. Lalu apa yang dimaksud dengan ilmu hudluri dan ilmu hushuli? Ilmu hudluri ialah ilmu yang hadir (ingat kata Arab: hādlir) begitu saja tanpa perantaraan apapun dan siapapun. Syaratnya cuma satu, yaitu kesucia jiwa. Dan karena malaikat adalah makhluk yang suci, tentu ini tidak sulit baginya. Manusia manapun juga bisa memiliki ilmu seperti ini asal juga memiliki syaratnya: mensucikan jiwanya dari mencintai dan mengabdi selain dari Allah dengan cara mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam melakukan berbagai macam amalan lahir dan batin. Disebut ilmu laduni (dari kata Arab: ladun, sisi) karena bersumber langsung dari sisi Allah. Sedangkan ilmu hushuli (dari kata Arab: hāshil, perolehan dari usaha) ialah ilmu yang diperoleh melalui perantaraan –belajar dari manusia dan alam—dengan melakukan eksperimen (ilmu-ilmu empirik) dan penalaran atau berfikir (ilmu-ilmu rasional).

AMALAN PRAKTIS

Kesempurnaan ilmu seseorang akan tercapai manakala menempuh dua cara sekaligus: ilmu hudluri dan ilmu hushuli. Yang pertama dicapai dengan mensucikan jiwa dengan melakoni berbagai ibadah lahir dan batin, yang kedua dicapai dengan belajar yang sungguh-sungguh dan tanpa mengenal lelah. Hanya dengan melakoni dua jenis ilmu inilah Anda terbebas dari sindiran Allah: manusia itu sungguh amat zalim dan amat bodoh.

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News