You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 117

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 117

E-mail Print PDF

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

[Allah Pencipta-awal langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.]

[Wonderful Originator of the heavens and the earth, and when He decrees an affair, He only says to it, Be, so there it is.]

1). Setelah kita menjelaskan hubungan Allah dengan selain-Nya, sekarang kita akan menjelaskan bagaimana pada awalnya Dia menciptakan segala sesuatunya. Kata “menciptakan” juga digunakan oleh manusia. Bahkan dari kata “menciptakan” versi manusia itulah kemudian kita juga menggunakannya untuk Allah. Yang mirip dengan kata ini ialah “membuat” dan “menjadikan”.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “men-cip-ta-kan” berarti: v 1 menjadikan sesuatu yang baru tidak dengan bahan: Allah ~ bumi dan langit; 2 membuat atau mengadakan sesuatu dengan kekuatan batin: menurut cerita, yg ~ Candi Prambanan ialah Bandung Bondowoso; 3 membuat (mengadakan) sesuatu yang baru (belum pernah ada, luar biasa, lain dari yg lain): melalui perundingan kita dapat ~ suasana saling mengerti; 4 membuat suatu hasil kesenian (seperti mengarang lagu, memahat patung): yg ~ lagu Indonesia Raya adalah W.R. Supratman. Masih menurut KBBI, “mem·bu·at” berarti: v 1 menciptakan (menjadikan, menghasilkan); membikin: manusia ~ berita, tetapi berita pun membentuk manusia; 2 melakukan; mengerjakan: terserah kepada Anda bagaimana caranya ~ lukisan itu; 3 menggunakan (untuk); memakai (untuk): sanggupkah engkau ~ uang sekian untuk belanja sebulan?; 4 menyebabkan; mendatangkan: engkau ~ aku takut; sikapnya yg kurang sopan itu ~ orang lain sakit hati. Sedangkan “men·ja·di·kan” berarti: v 1 membuat sebagai; merupakan: ia ~ sakit adiknya sebagai alasan untuk tidak pergi kuliah; 2 menyebabkan: hal itu akan ~ orang lain marah-marah; 3 mengangkat (memilih) sebagai: rakyat telah ~ dia kepala desa; 4 melaksanakan (rencana, janji, dsb): ia ~ penawarannya untuk membeli rumah itu; 5 menciptakan; mengadakan: Tuhan yang ~ langit dan bumi beserta isinya; ~ hati menyebabkan marah (kurang senang dsb).

Kalau kita cermati arti-arti dalam KBBI tadi, ketiga kata tersebut (“menciptakan”, “membuat”, dan “menjadikan”) mempunyai arti dan makna yang sama. Di dalam al-Qur’an, kata-kata tersebut (dan kata-kata lain yang berdekatan dengannya) benar-benar mempunyai arti dan makna yang berbeda. “Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur'an dalam Bahasa Arab semoga kalian menggunakan akal (untuk memahaminya). Dan sesungguhnya (al-Qur'an) itu (yang tersimpan) dalam induk Kitab Suci (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (43:3-4)

2). Di dalam al-Qur’an, selama kita cermat memperhatikannya, tidak mungkin terjadi kekacauan makna seperti di atas tadi. Berkenaan dengan Diri-Nya sebagai sumber dari segala-galanya, al-Qur’an menggunakan kata-kata ini: بَدِيعُ (badĭy’), فَاطِر (fāthir), خَالِقُ (khāliq), جَاعِلٌ (jā’il). Kata بَدِيعُ (badĭy’) bermakna “Pencipta-awal yang tidak membutuhkan desain, model, pola, patron, contoh, contekan, acuan, atau preseden (pendahulu) dalam bentuk apapun; juga tidak membutuhkan barang, bahan, material, bakal dan bekal dalam wujud apapun”.  Dia membuat sesuatu itu benar-benar dari nol, dari ketiadaan murni. Dari kata بَدِيعُ (badĭy’) ini muncul pecahan kata lain, بدعة (bid’ah) yang karena—dalam hadits yang sangat mashyhur—digandengkan dengan kata ضلالة (dhalālah, sesat) menjadi salah satu sebab timbulnya banyak perpecahan di tubuh umat. Manusia tidak mungkin menjadi بَدِيعُ (badĭy’), karena tidak ada seorang manusia manapun yang bisa membuat sesuatu dari ketiadaan murni, entah itu dari sisi contohnya, entah itu dari sisi bahannya. “Dia بَدِيعُ (badĭy’ Pencipta-awal) langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (6:101) Kata بَدِيعُ (badĭy’) ini kita temukan cuma 2 (dua) kali dalam al-Qur’an (2:117 dan 6:101).

Sedangkan kata فَاطِر (fāthir) merujuk kepada makna “Pencipta-awal yang menjadikan eksisnya untuk pertama kalinya sesuatu yang Dia ciptakan tersebut.” Makna ini mirip dengan kata “inisiator”  atau “inventor” (penemu) yang membuat penciptanya menjadi “pemegang hak paten”.  “Segala puji bagi Allah فَاطِر (fāthir, Pencipta-awal) langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (35:1) Dalam al-Qur’an kata فَاطِر (fāthir) ini terulang 6 (enam) kali (6:14, 12:101, 14:10, 35:1, 39:46, 42:11). Ingat juga kata “fithrah” yang ada di dalam ayat ini: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan (fitrah) Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (30:30)

Kata خَالِقُ (khāliq) juga bermakna Pencipta, tetapi tanpa tekanan pada kata “awal”, karena perbuatan Allah sebagai خَالِقُ (khāliq) terjadi setiap saat pada berbagai hal yang ada di sekitar kita. Seperti, setiap saat kita menyaksikan manusia lahir, tumbuh dewasa, kemudia mati. Yang terjadi di situ adalah proses penciptaan terus-menerus. “Hai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu. Adakah خَالِقُ (khāliq) pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagimana kalian (bisa) berpaling (dari-Nya)?” (35:3) Kata خَالِقُ (khāliq) ini muncul 8 (delapan) kali dalam al-Qur’an (6:102, 13:16, 15:28, 35:3, 38:71, 39:62, 40:62, 59:24).

Sedangkan kata جَاعِلٌ (jā’il) agaknya lebih cocok diartikan sebagai Pembuat (Yang melakukan suatu pekerjaan) atau Pengubah (Yang melakukan perubahan). Kata جَاعِلٌ (jā’il) ini berasal dari kata dasar جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) yang artinya: to make; to provide with; to begin, start, yakni membuat dalam pengertian mengubah sesuatu yang sudah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain, yang menyebabkan terjadi perubahan status atau perubahan hirarki wujud (lihat juga kembali pembahasan ayat 22 poin 1). “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyempurnakan (risalah)-mu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) murid-muridmu (hawariyyun) di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada-Kulah kalian kembal, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kalian berselisih padanya’.” (3:55) Ada 4 (empat) kali kata جَاعِلٌ (jā’il) ini kita jumpai (2:30, 3:55, 35:1, dan 2:124).

Untuk kata “membuat” atau “berbuat”, Allah menggunakan kata يَفْعَلُ (yaf’alu), dan tidak pernah menggunakan bentuk فاعل (fā’il, pelaku)-nya. Misalnya: “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah يَفْعَلُ (yaf’alu, berbuat) apa yang Dia kehendaki.” (22:14) Kata يَفْعَلُ (yaf’alu) ini terulang sebanyak 7 (tujuh) kali (2:253, 3:40, 4:147, 14:27, 21:23, 22:14, 22:18).

3). Pertanyaannya sekarang, bagaimana gerangan caranya Allah menerapkan proses penciptaan-Nya sebagai بَدِيعُ (badĭy’)? Pertanyaan ini salah. Setiap pertanyaan “bagimana” pada hakikatnya selalu tidak tepat dialamatkan kepada Allah. Karena kata tanya “bagaimana” meminta informasi mengenai “cara”, sementara perbuatan Allah mustahil diikat oleh “cara”. “Cara” sendiri adalah sesuatu “yang baru”, yang tidak sejalan dengan sifat Qadim dan Azali-Nya Allah. “Cara” hanya berlaku pada makhluk-Nya. Tidak kurang dari 8 (delapan) kali (2:117, 3:47, 3:59, 6:73, 16:40, 19:35, 36:82, 40:68) Allah memgulangi bahwasanya kalau Dia menghendaki sesuatu cukup mengatakan كُن فَيَكُونُ (kun fayakŭwn, "Jadilah". Maka jadilah ia). Jumlah ini persis sama banyak dengan kata خَالِقُ (khāliq). Bahkan menggunakan perantaraan sebuah kata “jadilah” pun sebetulnya juga tidak tepat. Karena “kata” pun masih bagian dari suatu “cara”. Penggunaan kata كُن (kun, jadilah) ini pun adalah ‘insiden’ yang tak terhindarkan dalam sebuah Kitab Suci yang tertulis. Sehingga kita, sebagai pembaca, harus menerimanya dengan ‘kepala dingin’. Pendeknya, apa saja yang Dia kehendaki, pasti terwujud. Semua hanya terpulang sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Dan tidak mungkin ada jedah—walau hanya sesingkat sebuah “kata”—antara kehendak-Nya dan terwujudnya sesuatu yang Dia kehendaki tersebut. Sebab kalau ada jedah, berarti ada unsur waktu di sana, sementara Dia mustahil terikat oleh waktu. Karena waktu pun adalah ciptaan-Nya. Semua ini memperjelas bahwa Diri-Nya tidak mungkin punya anak. “Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.” (40:68)

5). Secara bahasa kata كُن (kun, jadilah) dan يَكُونُ (yakŭwn, jadilah ia) berasal dari kata كَان (kāna) yang arti harafiahnya ialah “ada” . Kata كُن (kun, jadilah) adalah bentuk amr (perintah)nya yang arti harafiahnya “mengadalah!”, sedang kata يَكُونُ (yakŭwn, jadilah ia) adalah bentuk mudhari’ (sekarang)-nya yang arti harafiahnya ialah “mengadalah ia”. Sehingga jelas bahwa kalimat كُن فَيَكُونُ (kun fayakŭwn, Mengadalah! Maka mengadalah ia) sebetulnya adalah sebuah proposisi yang mengandung makna ‘bagaimana’ Allah mengadakan sesuatu selain Diri-Nya dari awal. Dan dari situ terjawab berbagai taka-teki tentang penciptaan dan hakikat ciptaan itu sendiri. Bahwa semua ciptaan bisa “mengada” karena mendapatkan ‘limpahan’ ADA dari Sang Wajib ADA-Nya (Wajibul Wujud). Sehingga satu-satunya yang wujudnya bersifat primer dan sejati di sana hanyalah Wujud-Nya, sementara segala sesuatu selain-Nya tidak pantas menyandang gelar WUJUD secara hakiki karena sifatnya yang sekunder dan derivatif. “Semua yang ada di dunia akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai Jalāl dan Ikrām.” (55:26-27) Firman-Nya lagi: “Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sungguh Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:96)

AMALAN PRAKTIS

Sains telah menerima bahwa awal dari alam semesta ini adalah partikel-partikel elementer yang kemudian membentuk fusi dan selanjutnya terjadilah Big Bang (Ledakan Besar). Darimanakah partikel-partikel elementer itu? Apakah masuk akal apabila ada sesuatu yang bisa menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan? Al-Qur’an mengatakan: “bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.” Betapa bodohnya kita kalau tidak mewakilkan semua masalah kepada-Nya.

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News