You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 42

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 42

E-mail Print PDF

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

[Dan janganlah kalian memakaikan (pakaian) yang hak kepada yang bathil sementara kalian sembunyikan yang hak itu, padahal kalian mengetahui.]

[And do not mix up the truth with the falsehood, nor hide the truth while you know (it).]

1). Lagi-lagi ayat ini dimulai dengan waw ‘athaf, yang menunjukkan bahwa masih kelanjutan dari seruan Allah kepada Bani Israil di ayat 40 dan 41. Di ayat 40 Allah telah menyebutkan dua larangan. Sekarang larangan ketiga: وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ [wa lā talbisŭwl-haqqa bil-bāthil, Dan janganlah kalian memakai (pakaian) yang hak (untuk menutupi) yang bathil]. Di sini kita tidak menterjemahkan kata تَلْبِسُواْ (talbisŭw) dengan “mencampur adukkan” karena dua alasan. Satu, menurut penjelasan al-Qur’an, al-haq (yang benar) dan al-bāthil (yang batil atau yang salah) adalah dua hal yang tidak bisa dicampur-adukkan, sebab sifatnya benar-benar berbeda; seperti air dan minyak. Sebagaimana tidak mungkin mencampur-adukkan antara terang (nŭwr) dan gelap (dhzulumat). Keduanya tidak mungkin bertemu, apalagi dicampur-adukkan. Begitu datang cahaya, yang gelap pasti akan pergi. Semakin kuat cahaya semakin lemah gelap. Semakin besar cahaya yang datang semakin besar pula gelap yang menghilang. Inilah yang Allah maksud dengan ayat berikut ini: “Dan katakanlah: ‘(Apabila) yang benar datang maka yang bathil (niscaya) lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (17:81) Untuk lebih tegas dan jelasnya, di tempat lain Allah berfirman lagi: “Yang benar (ialah) Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu dia (yang hak) menghancurkan (yang batil) itu, maka dengan serta merta dia (yang batil) lenyap...” (21:18) Kalau dua ayat tadi belum cukup, baca lagi ayat berikut ini: “Katakanlah: ‘(Ketika) yang benar telah datang maka yang batil itu tidak akan muncul (lagi) dan tidak (pula) akan mengulangi (kemunculannya)’.” (34:49) Dari tiga ayat ini (17:81, 21:18, dan 34:49) kelihatannya sudah sangat jelas bahwa al-haq (yang benar, kebenaran) tidak mungkin bercampur-aduk dengan al-bāthil (yang batil, kebatilan).

Dua, dari sisi bahasa, kata تَلْبِسُواْ (talbisŭw) bisa diperdebatkan apakah berasal dari kata “la-bi-sa” (memakai) atau “la-ba-sa” (mengacaukan, menyamarkan) atau “al-ba-sa” (memakaikan). Kalau kita padukan dengan ayat-ayat tadi (17:81, 21:18, dan 34:49), ketiga asal kata ini bisa kita gunakan bersama-sama, sehingga pengertian kata تَلْبِسُواْ (talbisŭw) menjadi: “Memakai pakaian kebenaran (al-haq) untuk menutupi tubuh aslinya yang salah (al-bāhil). Orang yang membantu, setuju atau membiarkan tindakan ini disebut memakaikan pakaian kebenaran (al-haq) kepada kebatilan (al-bāhil). Baik yang memakai ataupun yang memakaikan pakaian kebenaran (al-haq) kepada kebatilan (al-bāhil) punya andil yang sama di dalam mengacaukan pandangan orang awam tentang agama samawi yang benar.” Mereka inilah yang agaknya Allah ceritakan keadaannya nanti di akhirat: “Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan di neraka; maka orang-orang yang lemah berkata kepada para pembesarnya: ‘Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kalian menghindarkan dari kami sebahagian azab neraka?’” (40:47)

Dari penjelasan satu dan dua, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian yang tepat ialah “Memakai atau memakaikan (pakaian) kebenaran (al-haq) kepada kebatilan (al-bāthil).” Pengertian ini juga kiranya cocok dengan ciri-ciri orang munafik yang telah kita bahas sebelumnya dari ayat 8 sampai ayat 20, yang memakai pakaian iman untuk menutupi tubuh aslinya yang kafir.

2). Itulah sebabnya kenapa Allah melanjutkan ayat ini dengan anak kalimat: وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ (wa taktumul-haqa, sementara kalian sembunyikan yang hak itu). Tidak berulangnya huruf لاَ (lam nahyi, hurup lam yang tugasnya melarang) di sini mengindikasikan bahwa anak kalimat ini masih merupakan bagian tak terpisahkan dari kalimat sebelumnya. Allah hendak memesankan kepada manusia bahwa Bani Israil itu telah mencopot pakaian para Khalifah Ilahi untuk mereka pakai pada dirinya yang tidak berhak atau mereka pakaikan pada orang yang jelas-jelas salah. Sebagaimana mereka dahulu mencopot pakaian Yusuf sebelum mereka membuangnya tanpa welas asih ke dalam sumur gelap, sehingga Yusuf diberitakannya mati dan yang ada tinggal pakaiannya saja. Mereka melakukan itu karena tidak ingin Yusuf memakai ‘pakaian’ Kahlifah Ilahi pengganti ayahnya dengan alasan jauh lebih muda dari diri mereka. Inilah yang terjadi pada agama samawi sepeninggal nabi dan rasul. Yaitu, agama dibuang ke dalam ‘sumur gelap’ setelah sebelumnya dicopot ‘pakaian’-nya untuk dikenakan pada tempat yang salah. Pakaian Khalifah Ilahi dirampas untuk kemudian dikenakan kepada Khalifah Duniawi. Lalu kenapa mereka tidak membunuh Yusuf? Karena al-haq (kebenaran) tidak bisa dibunuh; yang bisa disembunyikan. Dan Ya’qub, ayah mereka, karena tahu betul arti pentingnya  kebenaran, terus menerus meratapi kehilangan Yusuf hingga matanya buta. Sementara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang telah berkonspirasi membuang Yusus, tidak menunjukkan kesediha sama sekali, selain karena tidak faham arti sebuah kebenaran, juga telah menjadi pelaku dari pencopotan baju Yusuf tersebut. Mereka bahkan balik menuding ayahnya, Ya’qub, sebagai mengidap kelainan jiwa.” Mereka berkata: ‘Demi Allah, kamu terus mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa’.” (12:85) Ingat, gelaran lain dari Bani Israil ialah anak-anak Nabi Ya’qub as.

3). Ayat ini ditutup dengan penggalan kalimat: وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (wa antum ta’lamŭwn, padahal kalian mengetahui). Artinya, perbuatan merusak agama ini mereka lakukan bukan tanpa sadar. Ayat ini mengatakan bahwa mereka, Bani Israil itu, melakukan rekayasa tingkat tingginya ini dengan kesadaran penuh. Mereka benar-benar tahu apa yang mereka lakukan dan untuk apa dan siapa semua itu mereka lakukan. Mereka tahu bahwa mereka melakukan semua itu—mereka merusak agama samawi dan merubahnya menjadi agama duniawi—karena mereka hendak mendukung dan mengangkat Khalifah Duniawi yang bisa memberikan imbalan (jabatan, akseptasi, popularitas, dan harta) kepada mereka, demi kesenangan duniawi belaka. Karena ini sifat Iblis, dan Iblis telah bersumpah untuk menggoda anak-cucu Adam agar tidak menerima Adam, Khalifah Ilahi yang benar, maka sifat ini dengan mudah kita temukan di mana saja. Untuk itu, di ayat lain, Allah memperluas cakupan ayat ini kepada seluruh Ahli Kitab (umat penerima Kitab Suci): “Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian memakaikan (pakaian) yang hak kepada yang bathil sementara kalian menyembunyikan yang hak itu, padahal kalian mengetahui?” (3:71)

AMALAN PRAKTIS

Menggunakan pakaian kebenaran untuk menutupi diri yang salah, namanya musang berbulu ayam. Agar terhindar dari penyakit ini, jangan pernah meninggalkan doa ini di setiap munajat Anda: “Ya Allah, perlihatkan kepada kami yang benar itu benar dan beri kami kemampuan untuk mengikutinya; dan perlihatkan kepada kami yang batil itu batil dan beri kami kemampuan untuk meninggalkannya.” Doa ini sudah sangat masyhur di masyarakat kita.

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News