You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 130

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 130

E-mail Print PDF

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

[Dan tiada yang benci millah Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.]

[And who forsakes the religion of Ibrahim but he who makes himself a fool, and most certainly We chose him in this world, and in the hereafter he is most surely among the righteous.]

1). Sebelum membaca ayat ini, bacalah kembali ayat 124 sampai 129 beserta uraiannya masing-masing. Ini penting, sebab di ayat 130 ini Allah menggunakan gaya bahasa yang sangat tegas kepada orang-orang yang menyalahi مِّلَّة  (millah) Nabi Ibrahim. Kalimat ini sangat menyentak: وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ (wa man yarghab ‘an millati ibrāɦima illa man safiɦa nafsaɦu, dan tiada yang benci millah Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri). Di sini Allah benar-benar menekankan مِّلَّة  (millah) Nabi Ibrahim sebagai timbangan, parameter, ukuran, untuk menentukan cerdas tidaknya seseorang. Dan itu artinya juga menjadi falsumeter atas benar tidaknya logika yang bersangkutan. Ini adalah konsekuensi logis dia sebagai Imam bagi seluruh manusia (2:124), sepertimana Kitab Suci juga sebagai Imam (11:17 dan 46:12). Keduanya sama-sama disebut Imam karena yang satu adalah identik dengan yang lainnya. Nabi Ibrahim adalah Kitab Suci yang terejawantahkan, sedangkan Kitab Suci adalah Nabi Ibrahim yang terfirmankan. Yang satu tidak bisa eksis tanpa yang lain. Fungsi kesatuan ini terdelegasikan terus-menerus melalui ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim. Ini pertanda yang sangat jelas bahwa arsitektur masyarakat ibrahimik berporos pada sistem imamah. Maka siapa yang menentang مِّلَّة (millah) ini pada dasarnya “memperbodoh dirinya sendiri”, karena sama saja dengan menyerahkan imamah kepada para Khalifah Duniawi yang pada gilirannya mereka gunakan untuk mengeksploitasi rakyat dan kekayaan bangsanya demi kepentingan kelanggengan kekuasaan politiknya.  “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan diri. Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu salat. Tetapi (kebanyakan) kalian memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat di dalam kitab-kitab yang dahulu. (yaitu) Kitab Ibrahim dan Musa.” (87:14-19)

2). Kata مِّلَّة (millah) dalam al-Qur’an muncul sebanyak 15 (limabelas) kali. Jumlah tersebut bisa dikategorikan ke dalam 3 (tiga) kelompok. Pertama, yang merujuk kepada مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim sebanyak 8 (delapan) kali (2:130, 2:135, 3:95, 4:125, 6:161, 12:38, 16:123, dan 22:78). Dan walaupun selalu ada nama Nabi Ibrahim di sana, tetapi مِّلَّة (millah) tersebut mencakup مِّلَّة (millah) seluruh nabi dan rasul, termasuk nabi dan rasul terakhir, Rasulullah Muhammad saw: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah مِّلَّة (millah) Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (16:123). Adalah sangat mengherankan manakala مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim bermula dari imamah sementara ketika sampai kepada Nabi Muhammad justru menolak imamah. Pertanyaan seriusnya, berdasarkan ayat 124, 125, 126, 127, 128, dan 129, masi pantaskah Nabi Muhammad disebut pelanjut مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim apabila sudah tidak memasukkan lagi imamah sebagai poros ajarannya? “Dan tiada yang benci millah Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh”.

Kedua, yang merujuk kepada مِّلَّة (millah) agama-agama samawi yang telah dirusak sehingga tidak sejalan lagi dengan مِّلَّة (millah) yang telah dirintis oleh Nabi Ibrahim as. Kategori ini muncul 2 (dua) kali (2:120, dan 38:7). Kalau kita lihat dalil penolakan pemuka masyarakat terhadap kedatangan seorang nabi di 38:4 dan 7, maka keberatan terbesar mereka disebabkan karena munculnya rivalitas terhadap kekuasaan politik mereka selama ini. “Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; maka berkatalah para pengingkar itu: ‘Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta’.” (38:4). Agar rasul ini juga ditolak oleh rakyat, para pemuka masyarakat yang iri hati itu coba mendiskreditkannya dengan menudingnya membawa مِّلَّة (millah) yang baru, “Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam مِّلَّة (millah) yang terakhir; ini tidak lain kecuali (dusta) yang diada-adakan” (38:7). Hal yang sama di 2:120, dimana para pemimpin Bani Israil takut para penganut Yahudi dan Nashrani memindahkan baiat dan kesetiaan mereka kepada Nabi Muhammad saw, sehingga mereka tak henti-hentinya mendekati Rasulullah agar mengikuti مِّلَّة (millah) mereka yang telah dirusak. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Ketiga, yang merujuk kepada مِّلَّة (millah) buatan manusia muncul sebanyak 5 (lima) kali (7:88, 7:89, 12:37, 14:13, dan 18:20). Yang ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan kenabian. Ini murni pola hidup dan agama buatan manusia, yang kemudian dipelihara oleh para pemimpin politik untuk dijadikan sebagai alat pengendali pikiran massa. Namrut dan Fir’aun adalah dua contoh pemimpin politik yang berhasil memanfaatkan paganisme (ke-syiriq-an) sebagai ideologi berbangsa dan bernegara, yang dengan ideologi seperti itu keduanya sukses mempengaruhi rakyatnya untuk melakukan ekspansi demi ekspansi, sehingga keduanya menjadi ‘tuhan’ di masanya masing-masing. Korbannya adalah massa rakyat yang tidak berdaya. Wajar kalau Allah menyebut mereka yang menolak مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim sebagai “memperbodoh diri sendiri”.  Karena satu-satunya yang untung dalam kekosongan مِّلَّة (millah) Ibrahim ialah Khalifah Duniawi.

3). Untuk mempertegas posisi imamah Nabi Ibrahim, Allah mengulangi kembali عَهْد (’aɦd, janji)-Nya di ayat 124 dengan pilihan kata yang lain: وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (wa laqadi-shthafaynāɦu fiyddunyā wa innaɦu fiyl-ākhirati laminash-shālihĭyn, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh). Penggunaan kata “Kami” di sini merujuk kepada keterlibatan para penghuni alam malakut atas (yakni para malaikat) sepertimana dulu mereka bersujud kepada Adam as. Dengan demikian Nabi Ibrahim pun adalah sosok yang dipilih oleh ‘langit’ atau ‘alam atas’, dan bukan dipilih oleh manusia yang bergelimang dengan dosa dan kezaliman. Makanya Nabi Ibrahim as disebut juga al-Musthafa—dari kata اصْطَفَيْنَاهُ (ishthafaynāɦu, Kami telah memilihnya)—sebagaimana gelar yang disandang Nabi Muhammad saw. Dan karena Allah yang memilihnya, tidak heran kalau keterpilihan dan kemuliaannya mencakup dunia dan akhirat. Sehingga siapa saja yang ingin selamat dunia dan akhirat, harus mengikuti مِّلَّة (millah)-nya, sebagaimana Nabi Muhammad mengikutinya. “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan pengikut millah-nya) ada teladan yang baik bagi kalian; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala dari) Allah dan (kebahagiaan pada) Hari Akhirat. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Kaya, Maha Terpuji.” (60:6)

4). Ayat ini secara keseluruhan ditutup dengan frase لَمِنَ الصَّالِحِينَ (laminash-shālihĭyn, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh). Penggunaan kata مِن (min) di sini bermaksud menjelaskan “jenis” atau “golongan”. Sehingga kata الصَّالِحِينَ (ash-shālihĭyn, orang-orang yang saleh) lebih menunjuk kepada nama “jenis” atau “golongan” ketimbang kepada “orang”-nya. Karena para nabi dan rasul sering disebut “termasuk orang-orang yang saleh”, dan manusia biasa juga diminta berdoa agar masuk ke dalam golongan orang-orang saleh, maka dapat difahami bahwa keshalehan merupakan sifat yang menyatukan para nabi, para rasul, para imam, para wali, dan orang biasa ke dalam satu golongan yang disebut الصَّالِحِينَ (ash-shālihĭyn, orang-orang yang saleh). Hanyasaja ini bukan sembarang golongan, karena para nabi sendiri di dalam doa-doanya masih banyak yang meminta agar dimasukkan ke dalam golongan ini. Doa nabi yusuf: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang saleh.” (12:101) Doa Nabi Sulaiman: “Ya Tuhanku, berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (27:19) Doa setiap orang yang sedang dicabut nyawanya oleh Malaikat Maut: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku barang sebentar,agar aku dapat bersedekah dan (berusaha) menjadi orang-orang yang saleh?” (63:10) Kemanakah doa-doa ini bermuara? Sepertinya ke ujung kehidupan, ketika bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang saleh dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim, ketika tugas imamahnya sudah mencakup seluruh manusia seperti janji Allah di ayat 124: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini (kelak akan) dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (21:105)

AMALAN PRAKTIS

Satu hal yang tak bisa kita hindari dalam hidup ini: pengukuran. Dan “pengukuran” artinya membandingkan sesuatu dengan alat ukur yang disepakati. Benar-tidaknya sesuatu tersebut tergantung pada sesuai tidaknya dengan alat ukur. Allah menjadikan مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim sebagai ukuran kecerdasan seseorang. “Dan tiada yang benci millah Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri” (2:130).

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News