You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 58

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 58

E-mail Print PDF

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُواْ هَـذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُواْ مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَداً وَادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُولُواْ حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

[Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kalian ke nagari ini (Baitul Maqdis), dan makanlah daripadanya di mana saja yang kalian sukai sepuasnya, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik".]

[And when We said: Enter this city, then eat from it a plenteous (food) wherever you wish, and enter the gate making obeisance, and say, forgiveness. We will forgive you your wrongs and give more to those who do good (to others).]

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang ketujuh. Yang menunjukkan di ayat ini ada hal luar biasa juga yang perlu mendapat perhatian oleh Bani Israil dan oleh kita semua. Sebelum membahas kandungan ayat ini, mari kita bandingkan dulu dengan ayat yang benar-benar mirip yang telah kita bahas sebelumnya. Yaitu tentang Adam (Khalifah Ilahi Pertama) dan istrinya di ayat 35: “Dan Kami berfirman: "Hai Adam berdiamlah kamu dan isterimu di taman (ini), dan makanlah daripadanya (makanan-makanannya) sebanyak-banyaknya di mana saja yang kamu (berdua) sukai, dan janganlah kamu (berdua) dekati pohon ini, (karena akan) menyebabkan kamu (berdua) termasuk orang-orang yang zalim”. Persamaannya, satu, sama-sama diawali dengan kata قُلْنَا (qulnā, Kami berfirman); dua, permulaan isi firman-Nya sama-sama bermakna perintah menempati (“diamilah” di ayat 35 dan “masukilah” di ayat 58); tiga, sama-sama mengandung perkenan untuk memakan sepuasnya dan di mana saja. Perbedaannya, satu, di ayat 35 yang diseru adalah Adam dan istrinya, sedangkan di ayat 58 yang diseru adalah Bani Israil; dua, ayat 35 ditutup dengan larangan (mendekati pohon) karena akan berakibat pada kezaliman, sementara di ayat 58 ini ditutup dengan perintah (memasuki pintu kota sambil bersujud) karena berakibat pada pengampunan. Secara umum kedua ayat ini bisa kita anggap sama. Yakni sama-sama mengandung gagasan Tuhan tentang kehidupan ilahiah di dunia agar para pelakunya tetap melaksanakan tugas-tugas ilahinya, karena itulah tujuan penciptaannya dan hanya dengan begitulah mereka akan bisa selamat dunia dan akhirat. Hanya dengan begitulah mereka bisa merasakan kebahagiaan sejati, bisa menikmati kehidupan ini sepuasnya dan dengan cara apapun yang mereka kehendaki. Hanya saja di ayat 35 gagasan itu sifatnya mondial, mengingat Adam sebagai representasi manusia secara keseluruhan; sementara di ayat 58 ini sifatnya komunal, mengingat Bani Israil sebagai sebuah komunitas.

Ini mengandung pelajaran yang sangat penting. Yaitu bahwa untuk menegakkan Pemerintahan Ilahi di dunia ini, mutlak dimulai dari sebuah komunitas. Tidak mungkin serentak di seluruh dunia. Nabi Musa diperintah memulainya dari الْقَرْيَةَ (al-qaryah, nagari), dan Nabi Muhammad diperintah memulainya dari الدَّارَ (ad-dār, Madinatul Munawwarah, lihat 59:9). Dari situ kemudian memancar ke seluruh permukaan bumi, bak sinar mentari pagi yang menerangi dan memberi harapan pada kehidupan.

2). Perjalanan Nabi Musa bersama Bani Israil—setelah melepaskan diri dari perbudakan dan kejaran Fir’aun—membawanya sampai ke sebuah nagari. Ada yang mengatakan nagari itu adalah Yerussalem. Kitab Perjanjian Lama menyebutnya Nagari Kanaan (Bilangan 33:51). Sebelum memasuki nagari itu Allah terlebih dahulu mengingatkan agar mereka harus memasukinya melalui “pintu yang benar” dan dalam keadaan “bersujud”. Kalau kita lihat keseluruhan isi ayat, diantara poin penting dan luar biasa yang Allah pesankan melalui ayat ini ialah kedua hal ini: “pintu yang benar” dan “bersujud”. Bahkan sepertinya menjadi syarat untuk bisa leluasa menikmati berbagai jenis makanan dan buah di nagari tersebut. Pertanyaannya, kenapa mesti melalui “pintu yang benar”? Bukankah kita bisa memasuki suatu nagari atau kota dari sisi mana saja kita inginkan sesuai dengan arah kedatangan kita. Yang menarik ialah ketika Nabi Ya’qub menyuruh anak-anaknya kembali ke Mesir untuk membawa Benyamin karena diminta oleh ‘Raja’ sebagai syarat untuk mendapatkan jatah makanan berikutnya, dia memerintahkan mereka memasukinya dari pintu yang berbeda-beda. “Dan Ya’qub berkata: ‘Hai anak-anakku janganlah kalian (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, tetapi masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda...’.” (12:67) Kalau kita sebut Kanaan atau Yerussalem sebagai Kota Ilahi (Kota yang dijanjikan, Kota yang diberkati) sedangkan Mesir sebagai Kota Duniawi, dengan sangat jelas bisa difahami bahwasanya kita tidak boleh memasuki Kota Ilahi dari sembarang pintu, melainkan harus dari “pintu yang benar”. Ingat, kebenaran hanya disebut kebenaran apabila awal hingga akhirnya benar. Itu sebabnya masuk dari “pintu yang benar” dicirikan sebagai suatu kebajikan (lihat kembali pembahasan ayat 44) dan takwa: “...Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari pintu belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya (yang benar); dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (2:189)

Masalahnya menjadi lebih jelas kalau kita lihat poin penting berikutnya, yaitu masuk dalam keadaan “bersujud”. Ini tidak beda ketika Allah meminta kepada seluruh malaikat untuk “bersujud” kepada Adam, Khalifah Ilahi yang waktu itu barusan didemonstrasikan kemampuan ilmunya. Semua malaikat “bersujud” kecuali Iblis, moyangnya syaitan (2:34). Artinya, perintah kepada Bani Israil untuk memasuki Kota Ilahi melalui “pintu yang benar” dan dalam keadaan “bersujud” adalah caranya Allah untuk memperlihatkan kepada manusia mana anggota mizbullah (partai Allah) dan mana anggota hizbussyaitan (partai syaitan), mana pengikut Khalifah Ilahi dan mana pengikut Khalifah Duniawi.

3). Poin penting berikutnya ialah وَقُولُواْ حِطَّةٌ (wa qŭwlŭw hitthatun, dan katakanlah: Bebaskanlah kami dari dosa). Kalangan ulama tafsir berbeda pendapat soal kata حِطَّةٌ (hitthah) ini. Qatadah mengartiknnya sebagai “pembebasan dari kesalahan”, yaitu urusan atau perintah istighfar. Ibnu Abbas menyebutnya sebagai kalimat “lā ilāha illal-Lah” (tiada tuhan selain Allah) karena katanya kalimat ini menjadi pengampun atas dosa-dosa sehingga maksud ayat menjadi: “katakanlah, masalah kami ialah hitthah (ampunan dari dosa-dosa)” (Lihat Tafsir al-Baghawi soal ayat ini). Sedangkan Jalaluddin as-Suyuti dalam Durr al-Mantsŭr mengutip Sayidina Ali bin Abi Thalib kw mengatakan: “Posisi kami (Ahlul Bayt) dalam Islam terhadap kaum Muslimin adalah seperti hitthah bagi Bani Israil”. Yang jelas وَقُولُواْ حِطَّةٌ (wa qŭwlŭw hitthatun, dan katakanlah: Bebaskanlah kami dari dosa) ini adalah perintah “katakanlah” setelah dua perintah “masuklah” sebelumnya. Artinya حِطَّةٌ (hitthah) ini adalah konsekuensi logis dari pelaksanaan perintah  “masuklah” ke Kota Ilahi melalui “pintu yang benar” dan “masuklah” dalam keadaan “bersujud”. Melihat urutan ini, kelihatannya tidak akan ada حِطَّةٌ (hitthah) atau pengampunan atas dosa-dosa kalau tidak memasuki Kota Ilahi melalui “pintu yang benar” dan dalam keadaan “bersujud”.

4). Penggunaan penutup وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (wa sanazĭdul muhsinĭn, dan Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik). Artinya, orang yang memasuki kota Ilahi melalui “pintu yang benar” dan dalam keadaan “bersujud”, selain mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya, juga menjadi insan yang Muhsin (orang yang terakaruniai kemampuan untuk selalu berbuat baik dan berhak menempati level Ihsan). Orang Muhsin ini adalah diantara orang yang dicintai oleh Allah, selalu disertainya, dan kebalikan dari Bani Israil yang gandrung melakukan pelanggaran.

“(Tetapi) karena mereka (Bani Israil) melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) akan terus melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang Muhsin (orang yang senantiasa berbuat baik).” (5:13)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang Muhsin (orang yang senantiasa berbuat baik).” (29:69)

AMALAN PRAKTIS

Kemanapun Anda pergi dan dimanapun Anda berada, selalulah mematuhi aturan. Karena hanya dengan cara begitulah kita bisa meraih kebebasan dalam arti yang sesungguhnya. Pelanggaran yang dilakukan orang lain tidak boleh menjadi pembenar bagi kita untuk melakukan pelanggaran yang sama. Masuklah ke suatu nagari melalui “pintu yang benar” dan dengan cara “bersujud” kepada penghuninya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda.

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News