You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 37

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 37

E-mail Print PDF

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

[Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat (lagi) Maha Penyayang.]

[Then Adam received (some) words from his Lord, so He turned to him mercifully; surely He is Oft-returning (to mercy), the Merciful.]

1). Di ayat yang lalu (36) ada potongan ayat yang berbunyi: “Turunlah kalian! Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain.” Perintah “Turunlah” di sini diterjemahkan dari kata aslinya اهْبِطُواْ (ihbithuw) yang—kalau kita melihat ayat lain yang menggunakannya—tidak harus disepadankan dengan Bahasa Indonesia “turun” (dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah). Seperti ayat: اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ [iɦbithuw mishrā pa inna lakum-mā sa¨altum, (Wahai Bani Israil, kalau mau makan yang enak-enak) turunlah ke Kota Mesir karena di sana tersedia buat kalian apa saja yang kalian minta, (2:61)]. Artinya, kalau Bani Israil pengikut Musa ini menghendaki kesenangan duniawi, lebih baik mereka kembali saja ke Mesir; tetapi itu sama saja dengan “turun” derajat dari bangsa merdeka menjadi bangsa budak.

Jadi kata اهْبِطُواْ (ihbithuw) lebih tepat diartikan dengan “turun dari keadaan hidup yang lebih baik ke keadaan hidup yang lebih buruk”. Sehingga potongan ayat: “Turunlah kalian! Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain,” lebih tepat diartikan “turunlah kalian” dari kehidupan surgawi ke kehidupan duniawi sebagai akibat dari penolakan kalian terhadap wilayah khalĭfah ilahi. Pengertian ini lebih dipertegas lagi oleh tambahan “Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain.” Permusuhan menjadi tak terhindarkan karena hasrat surgawi yang tidak terbatas tidak mungkin dipenuhi oleh kesenangan duniawi yang terbatas—baik jumlahnya ataupun waktunya—sehingga terjadilah perebutan. Sedihnya, karena pihak pemerintah (khalĭfah duniawi) yang seharusnya (per-defenisi) menjadi wasit bagi terdistribusinya kesenangan duniawi itu secara adil, malah menjadi pemain utama, sehingga terpaksa berhadap-hadapan dengan pihak rakyatnya sendiri. Di sinilah represi dan opresi menjadi tak terelakkan. Fitnah dan kebohongan disebar. Agama candu dipelihara. Perpecahan di antara unit-unit sosial diciptakan. Agar rakyat tidak mengetahui wajah asli penguasanya.

2). Tetapi kehidupan duniawi yang penuh permusuhan itu bukan berarti tidak bisa dihentikan. Dengan syarat, ada kesediaan untuk menerima “beberapa kalimat”. Nabi Ibrahim as juga diangkat menjadi Imam bagi seluruh manusia setelah menerima “beberapa kalimat” ini. “Dan (ingatlah), tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga imam-imam berikutnya adalah) dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘(Permohonanmu kupenuhi tetapi) janji-Ku (ini) tidak berlaku pada (keturunanmu) yang zalim’.” (2:124) Karena ini syarat penting, maka juga menjadi sangat penting mengetahui apa yang dimaksud dengan “beberapa kalimat” itu. Di dalam al-Qur’an, kata “kalimat” menggunakan dua bentuk, dan masing-masing bentuk kata pasti punya maknanya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain. Ada kata كَلاَم (kalām) yang bermakna “Kitab Suci”. Empat kali kata ini muncul, dan keempat-empatnya juga bermakna “Kitab Suci”. Tiga membentuk frase كَلاَمَ اللّهِ (kalāmal-lah, Kalam Allah)—lihat di 2:75, 9:6, dan 48:15. Satu dalam bentuk كَلاَمِي (kalāmiy, Kalam-Ku)—lihat di 7:144.  Bentuk jamaknya ialah الْكَلِم (al-kalim), dan juga muncul sebanyak empat kali; tiga bermakna “Kitab Suci”  (4:46, 5:13, 5:41) dan satu bermakna “Perkataan Suci” (35:10).

Sementara frase “beberapa kalimat” adalah terjemahan dari kata كَلِمَات (kalimāt), bermakna  kalimat-kalimat atau “beberapa kalimat”, yang merupakan bentuk jamak dari kata كَلِمَة (kalimah). Dalam al-Qur’an kata كَلِمَات (kalimāt) muncul sebanyak 28 kali—sebanyak jumlah Nabi dan Rasul ditambah Luqman, Khidr dan Uzair. Sementara bentuk tunggalnya كَلِمَة (kalimah) hanya muncul setengahnya, yaitu sebanyak 14 kali. Lalu apa yang dimaksud “kalimat” dalam bentuk كَلِمَة (kalimah) atau كَلِمَات (kalimāt) di sini? Para mufassir berbeda pendapat soal ini. Ada yang mengartikannya dengan “perintah dan larangan”. Ada yang mengartikannya dengan “penyesalan dan permohonan ampun Nabi Adam dan istrinya” seperti yg disebutkan di 7:23, “Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’.” Tetapi kalu kita lihat penggunaannya dalam al-Qur’an, “kalimat” juga bisa berarti “sosok” manusia pilihan. Contohnya: “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan (akan lahirnya seorang) kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya (kalimat itu ialah) Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)’.” (3:45) Jadi yang dimaksud “kalimat” di ayat ini ialah Nabi Isa as. Begitu juga di ayat berikut ini: “… Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah Rasul Allah dan Kalimat-Nya yang dikaruniakan-Nya kepada Maryam, dan Ruh dari-Nya…” (4:171)

Kalau kita mengartikan “beberapa kalimat”—tanpa bermaksud menolak pengertian lain—di Surat al-Baqarah ayat 37 ini dengan “beberapa sosok ilahi”, maka pertobatan Adam akan diterima dan permusuhan satu sama lain akan berhenti manakala menerima kembali kehadiran “sosok ilahi” yang bergelar khalĭfah itu. Jadi—dalam konteks pengertian ini (sekali lagi, dengan tetap menghormati pendapat yang lain)—hak prerogative Allah untuk menerima taubat hamba-Nya akan Dia terapkan apabila memenuhi syarat ini. Untuk lebih jelasnya, coba renungkan ayat ini: “Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya (dengan melakukan dosa) datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (4:64) Artinya, berdasarkan ayat ini, taubat diterima apabila yang bersangkutan datang kepada Rasul, dan Rasul pun meminta ampunan untuknya.

AMALAN PRAKTIS

Setiap pelanggaran terhadap perintah dan atau larangan Allah berarti dosa. Dan setiap dosa berarti kejatuhan dari keadaan yang lebih baik ke keadaan yang lebih buruk. Untuk menghentikan kejatuhan demi kejatuhan tersebut ialah dengan bertobat. Nabi sendiri yang terjaga dari dosa (ma’shum) itu mengaku beristigfar minimal 70 kali dalam satu hari. Lalu siapakah kita ini yang dalam satu hari nyaris tidak pernah beristigfar? Kalau Nabi istigfarnya sehari 70 kali, kita seharusnya minimal 40 kali dari Nabi.

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News